Burn Rate, Unit Economics, dan Kapan Waktu yang Tepat Bagi Startup Untuk Membakar Uang Besar Per Bulan

burn-rate-unit-ekonomi-startup
Mar 29 2016

Burn Rate, Unit Economics, dan Kapan Waktu yang Tepat Bagi Startup Untuk Membakar Uang Besar Per Bulan

 

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki uang 14 miliar rupiah?

Beberapa perusahaan memiliki jawaban sederhana untuk menjawab pertanyaan itu. Habiskan semuanya. Setiap hari. Setidaknya ini adalah pendekatan yang diadopsi oleh dua perusahaan yang diprofilkan pada episode ini, Data Point of the Week.

Dua perusahaan ini didirikan di kota yang sama di waktu yang hampir sama, dan menikmati bunga investor dalam jumlah yang besar, dan menghabiskan banyak uang untuk mengejar growth. Satu-satunya perbedaan mereka: Yang satu masih hidup dan dalam keadaan baik sementara yang satunya sudah mati.

Cari tahu apa yang memisahkan kedua perusahaan ini dan mengapa beberapa startup sukses (seperti Hubspot, Uber, Box) dapat membakar berton-ton uang dan masih berada di puncak saat ini. Cari kalkulator Anda, kita akan bermain dengan angka-angka dan mendalami burn rate dan unit economics.

Mari mulai dengan Game Dead or Alive. Mari lihat contoh beberapa perusahaan yang masih hidup (Alive) dan sudah keluar dari bisnisnya (Dead).

Perusahaan #1

  • Didirikan pada 1996 di Silicon Valley sebagai layanan pengiriman bahan makanan sehari-hari
  • Di belakang perusahaan ini terdapat investor-investor legendaris, seperti Benchmark Capital, dan lain-lain.
  • CEO perusahaan ini belum berpengalaman menjadi CEO sebelumnya, ia pertama kali menjadi CEO di perusahaan ini. Pengalaman kerjanya adalah sebagai consultant di Arthur Andersen.
  • Perusahaan ini akhirnya IPO dan mempekerjakan lebih dari 2.000 karyawan.
  • Perusahaan ini membakar uang sekitar 560 miliar rupiah per bulan.

Jadi saat ini, apakah perusahaan ini sudah mati atau masih hidup?

Tidak heran, perusahaan ini mati. Apa nama perusahaan ini? Webvan.

Webvan company Bankrupt

Perusahaan #2

  • Didirikan pada tahun 1999
  • Tidak pernah menghasilkan profit
  • Membuat pesta-pesta mewah
  • Merugi 3 triliun rupiah dalam setahun

Jadi, apakah perusahaan ini hidup atau mati?

Percaya atau tidak, perusahaan ini masih hidup. Perusahaan itu adalah Salesforce.com.

salesforce.com

Itulah dua contoh perusahaan yang berdiri di tahun yang tidak berbeda jauh, tetapi satu perusahaan yaitu Salesforce masih hidup sampai saat ini, sedangkan Webvan sudah mati. Jadi, apa perbedaan antara kedua perusahaan ini? Jawabannya adalah Unit Economics.

Unit Economics pada dasarnya adalah dampak ekonomi yang dihasilkan setiap menambahkan satu customer. Mari ambil contoh dari perusahaan Salesforce. Sebelum customer membayar kepada Salesforce, Salesforce tidak akan mendapatkan apa-apa. Customer perlu di-acquire agar mendatangkan uang untuk Salesforce, tapi tentunya itu akan menggunakan uang perusahaan.

Itu berarti perusahaan tetap membayar untuk iklan, karyawan, dan untuk acara-acara fantastis. Percayalah, mengeluarkan uang untuk membuat event musik rock dimana orang bisa berteriak-teriak itu sangat mahal. Tapi, ada sebutan untuk itu, yaitu CAC (Cost to Acquire Customer / Customer Acquisition Cost).Untuk menghitung CAC, Anda hanya perlu menggunakan angka seluruh uang yang digunakan oleh perusahaan termasuk Sales + Marketing pada waktu tertentu lalu membaginya dengan jumlah customer yang mereka dapatkan dari pengeluaran tersebut.

rumus-cost-to-aquire-customer-(CAC)

Unit economics yang dari tadi kita bicarakan dapat dilihat dari grafik berikut.

grafik unit economics

Warna merah menunjukkan biaya dan waktu yang perusahaan keluarkan dalam me-acquiring customer. Sedangkan warna hijau menunjukkan kali ini customer yang mengeluarkan uang untuk perusahaan. Ia mulai menghabiskan uangnya semakin lama semakin banyak kepada perusahaan.

grafik J unit economics

Grafik ini juga biasa disebut grafik J karena berbentuk seperti J, dan grafik ini merupakan grafik yang sangat sehat.

Grafik kedua adalah grafik yang menggambarkan perusahaan yang kehilangan beberapa customer sehingga garis digambarkan lebih datar.

grafik S unit economics

Grafik ini disebut juga grafik S karena berbentuk seperti huruf S.

grafik S unit economics

Kedua grafik di atas bisa dipersepsikan untuk perusahaan seperti Salesforce. Bagaimana bentuk grafik untuk perusahaan seperti Webvan? Bagian merah sedikit mirip, karena perusahaan juga mengeluarkan uang untuk menarik customer, perbedaannya adalah jika Salesforce memiliki tipe customer yang terus membayar jutaan rupiah setiap bulannya kepada perusahaan, berbeda dengan Webvan. Webvan berfokus kepada membuat customer untuk terus kembali ke Webvan dan melakukan transaksi sehingga mereka mendapatkan margin yang rendah. Grafik unit economics perusahaan seperti Webvan akan terlihat seperti ini.

grafik unit economics webvan

Jika kita lihat perusahaan seperti Salesforce, mereka tidak membakar uang karena unit economics mereka buruk, tetapi justru karena unit economics mereka bagus dan perusahaan mereka tumbuh dengan pesat. Jika bisnis Anda memiliki unit economics yang bagus dan customer Anda terus bertambah berkali lipat setiap tahun hingga 20 tahun, tentunya Anda akan membakar banyak uang.

Mari lihat contoh perusahaan lain yang sudah IPO beberapa tahun terakhir, seperti Hubspot, Zendesk, New Relic, dan Box. Mereka semua memiliki grafik unit economics berbentuk J dan burn rate mereka sangat tinggi. Mari kita lihat grafik burn ratenya.

grafik burn rate

Mereka membakar uang sebanyak itu per bulan. Ini bukan typo, setiap hari kerja, uang sebanyak 8 miliar rupiah dibakar habis-habisan per hari demi mempertahankan nyala api perusahaan.

perusahaan dengan unit economics baik

Jadi, ini adalah sejumlah perusahaan yang sedang memimpin saat ini. Perusahaan-perusahaan ini memiliki burn rate yang tinggi, namun uang yang mereka keluarkan sebanding dengan unit economics mereka yang sehat. Kesuksesan perusahaan-perusahaan saat ini ditentukan oleh unit economics.

Artikel ini diambil dari blog RJMetrics.

Baca juga

Tentukan Fokus Target Customer Anda dengan Memperhitungkan Customer Acquisition Cost dan Customer Lifetime Value

Bagaimana Menghitung dan Meningkatkan Customer Lifetime Value

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.