FASILITAS LISTRIK : Di Era 4G, Kampung Dekat Perbatasan Solo Ini Susah Dapat Listrik

kampung-pulorejo-colomadu-karanganyar-370x247
Mar 28 2016

FASILITAS LISTRIK : Di Era 4G, Kampung Dekat Perbatasan Solo Ini Susah Dapat Listrik

KARANGANYAR — Inilah kenyataan yang muncul tak jauh dari perbatasan Kota Solo. Sebanyak enam buah rumah di Kampung Pulorejo, Desa Bolon RT 004/RW 006, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, kesulitan mengakses listrik PLN. Hal ini terjadi karena letak Kampung Pulo merupakan kawasan terisolasi.

“Di Kampung Pulo ini seluruhnya ada enam rumah. Dari jumlah itu dua di antaranya yaitu rumah saya dan rumah kakak saya belum lama ini memang ada listriknya. Tapi meterannya ada di luar kampung ini atau sekitar 200 meter,” ujar salah seorang warga setempat yang menyantol listrik, Sariyono, 33, ketika ditemui di kediamannya, Senin (28/3).

Menurut dia, hingga saat ini di kampungnya tidak terdapat tiang listrik dari PLN. Karena tiang listrik terakhir yang dekat dengan kediamannya berada di luar kampung, dia dan kakaknya, Surtisno, harus menarik kabel sepanjang kira-kira 200 meter.

Dia menjelaskan rumahnya baru bisa teraliri listrik sekitar enam bulan lalu. Sedangkan kakaknya lebih dulu bisa mendapatkan aliran listrik setelah menarik kabel dari luar kampung sepanjang kira-kira 200 meter tersebut. Konsekuensinya, mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembelian kabel.

Sementara itu empat rumah yang belum bisa pasang listrik sendiri masing-masing rumah Jumali, Senen, Bardi dan Atmo. “Untuk sementara mereka menyalur listrik dari tempat kami. Karena mereka belum mampu pasang begenser sendiri,” kata dia.

Pada bagian lain Ketua BPD Desa Bolon, Paryono membenarkan adanya warga Bolon yang belum bisa pasang aliran listrik dari PLN secara mandiri. Karena hal itu tak lepas dari kemampuan ekonomi warga yang tak mendukung. “Warga di Kampung Pulo itu semuanya kan buruh serabutan sehingga mayoritas ekonomi mereka kurang mendukung. Karena itu jika harus pasang tiang sendiri tentu keberatan,” ujar dia.

Menyinggung keberadaan Kampung Pulorejo, dia menjelaskan kampung tersebut berada di kawasan yang terkepung aliran sungai dan saluran irigasi sehingga terisolasi. Karena itu di kawasan tersebut hanya ditempati enam kepala keluarga (KK).

Sebenarnya, ujar Paryono, kawasan itu kira-kira tahun 1970-an semula merupakan kawasan asri yang sering digunakan sebagai tujuan wisata warga setempat. Dulu, kawasan yang dikepung tanggul itu dinilai nyaman untuk melepas penat. Karena jika dilihat dari atas atau dari tanggul, pemandangan rumah atau taman di bawah terlihat asri.

“Dulu tempat ini diapit sungai lumayan besar, satu untuk saluran irigasi dan satunya lagi untuk keperluan Pabrik Gula [PG] Colomadu ketika masih beroperasi. Namun seiring dengan perkembangan hingga zaman PG Colomadu berhenti beroperasi, sungai yang mengaliri PG Colomadu pun juga mati dan keelokan Kampung Pulo juga memudar hingga tak terawat seperti sekarang ini,” kata dia.

 

Editor: Adib M Asfar | dalam: Karanganyar | Sumber: http://solopos.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.