Perjalanan J.P.Ellis Membangun @CekAjaID, Situs Perbandingan Harga Produk Finansial dan Asuransi di Indonesia

cekaja-ceo-j.p.ellis_-661x1024
Mar 29 2016

Perjalanan J.P.Ellis Membangun @CekAjaID, Situs Perbandingan Harga Produk Finansial dan Asuransi di Indonesia

John Patrick Ellis adalah CEO dari Cekaja.com. Cekaja adalah portal informasi dan juga situs perbandingan harga produk finansial dan asuransi di Indonesia yang baru berjalan dalam versi Beta sejak bulan April lalu. Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai perjalanan J.P.Ellis dari saat ia mendirikan beberapa startup sampai ia mendirikan Cekaja dengan jumlah customer (orang yang sudah mengajukan aplikasi di Cekaja) yang sudah mencapai ribuan orang kurang dari dua bulan berjalan.

 

Background

Ellis dilahirkan di Florida, US. Ia kuliah di Columbia University mengambil jurusan ilmu poilitik, tetapi selain belajar ilmu poilitik, ia terkadang juga belajar bahasa pemrograman di sela-sela waktunya yang padat. Pada saat ia masih kuliah di tahun 1999, saat itulah terjadi internet bubble dimana banyak perusahaan yang berakhiran “dotcom” merugi yang berakibat orang-orang yang menanamkan modal ke perusahaan dotcom itu juga kehilangan uang mereka. Tetapi saat itu Ellis belum mengerti tentang bisnis sama sekali walaupun ia sudah sering bermain dalam bahasa pemrograman.

Setelah lulus, sama dengan sebagian besar mahasiswa politik lainnya, ia bekerja di suatu perusahaan hukum selama satu tahun. “Saya masih muda, saya masih ingin mengarungi dunia ini, ya saya masih ingin jalan-jalan,” ungkap Ellis yang lalu mendapatkan beasiswa dari Stanford University untuk belajar ke China. Tetapi sebelum ia menetapkan untuk mengambil beasiswa itu ke China, ada salah satu program di Stanford yang memperkenalkan dan menyarankannya untuk pergi ke Indonesia. Ini adalah program Stanford yang dinamakan VIA (Volunteer in Asia). Terlihat menarik, ia pun langsung menerima dan mengikuti program ini.

Pertama kali ke Indonesia

Ternyata program ini mengharuskan Ellis untuk bekerja di LSM di Flores, Nusa Tenggara Barat selama satu tahun. Lalu ia pindah ke Bali dan bertemu dengan salah satu entrepreneur sukses di sana, yaitu John Hardy dan ia bekerja untuk orang ini. Tidak lama setelah itu, sekitar tahun 2005, perusahaan John Hardy ini dijual ke suatu Private Equity. Ellis merasa takjub dengan akuisisi ini, “terus terang seumur hidup saya, saya tidak tahu sama sekali mengenai jual-beli perusahaan dan saya sangat kagum dengan dunia ini. Orang tua saya adalah seorang insinyur dan guru, jadi saya tidak tahu sama sekali tentang dunia finansial dan bisnis, tetapi saya ingin mendalami dunia ini” ujar Ellis.

Setelah mengetahui hal ini, Ellis merasa sangat tertarik dan ia juga ingin membangun perusahaannya sendiri, tetapi ia merasa bahwa ilmunya belum cukup dan ia masih harus perlu belajar lagi. Setelah perusahaan John Hardy ini dijual, ia pindah ke suatu Private Equity di Singapore dan bekerja di sana selama lima tahun. “Kerjaan saya di sini saya anggap sebagai S-2 saya,” kata Ellis sambil tersenyum.

Membangun Harpoen dan Mapiary

Pada tahun 2011, ia keluar dari perusahaan tersebut dan mendirikan startup pertamanya, yaitu Harpoen. Harpoen adalah aplikasi yang dimana penggunanya bisa meninggalkan jejak dalam bentuk grafiti yang berbasis digital. Apabila pengguna lain ingin melihat grafiti yang ditinggalkan ini, pengguna tersebut harus datang ke tempat dimana jejak itu ditinggalkan. Hebatnya, aplikasi ini berhasil menjadi juara dunia di acara World Summit Award di kategori Mobile Content pada tahun 2012 yang diselenggarakan oleh PBB. Ini merupakan prestasi yang besar bagi startup Indonesia karena tidak banyak startup Indonesia yang berhasil mendapatkan juara di suatu acara kelas dunia seperti ini.

“Melihat dari konsep maupun tim, Harpoen memiliki segalanya, artinya bagus, tetapi bisnis model Harpoen tidak cocok bagi advertiser untuk beriklan karena konsep meninggalkan jejak tersebut. Dan di sinilah kami berpikir untuk mendirikan startup lagi, yaitu Mapiary. Mappiary adalah aplikasi yang berbasis lokasi dimana pengguna bisa berbagi cerita dalam bentuk peta kepada orang lain yang ditampilkan berdasarkan lokasi,” ungkap Ellis. Mapiary bisa dibilang tergolong cukup sukses karena aplikasi ini bisa menarik banyak brand untuk diajak bekerjasama.

Bergabung dengan Mountain Venture

Tidak lama setelah peluncuran Mapiary, Ellis diajak oleh Andy Zain untuk bergabung dengan Mountain Venture. Sebelumnya, mereka berdua memang sudah kenal dekat, Andy Zain sendiri adalah advisor di Harpoen. Pada saat itu Ellis masih sibuk sekali mengurus bisnisnya, tetapi setelah diskusi yang panjang, akhirnya ia bersedia bergabung dengan Mountain Venture yang berisikan orang-orang dari berbagai latar belakang. “Saya sangat bersyukur bisa bergabung dengan Mountain Venture karena di sini saya bisa tetap memulai untuk membangun startup saya yang baru dan bertemu orang-orang hebat lainnya, ada banyak manfaat yang saya terima jika bergabung di sini,” jelas Ellis. Dari sinilah Cekaja lahir dan berjalan sampai saat ini.

Bagi anda yang belum mengetahui, Mountain Venture adalah perusahaan company builder, artinya perusahaan ini turut serta secara mendalam membangun perusahaan yang mereka investasikan, dalam kasus ini adalah Cekaja. Company builder berbeda dengan VC (Venture Capital) pada umumnya yang hanya memberikan uang dan tidak banyak ikut serta dalam membangun perusahaan yang mereka investasikan.

Cekaja dipersenjatai oleh orang-orang yang sangat berpengalaman di bidangnya, termasuk co-founder dari Check24.de yang keluar dari perusahaan tersebut untuk ikut serta mendirikan Cekaja di Indonesia. Bisnis model Cekaja bisa dibilang mirip dengan Check24 yang berbasis di Jerman. Walaupun mirip, sebenarnya antara dua perusahaan ini tidak ada hubungan sama sekali, walaupun salah satu co-founder Check24 telah keluar meninggalkan perusahaan ini dan bergabung dengan Mountain Venture dan Cekaja.

Berdirinya Cekaja

Konsep Cekaja sendiri baru dibuat pada bulan November tahun lalu, sedangkan pengembangan situsnya dimulai pada bulan Januari tahun ini dan telah diluncurkan sejak bulan April lalu. Namun sampai saat ini Cekaja masih berada dalam tahap beta, tetapi pencapaiannya sudah cukup besar. Hanya dalam sebulan setelah peluncuran, Cekaja sudah berhasil mendapatkan ribuan customer. Ini membuktikan bahwa apa yang ditawarkan Cekaja adalah sebuah solusi bagi banyak orang. “Banyak customer kami yang chatting dengan kami dan mereka merasa terbantukan akan kehadiran Cekaja karena sebelumnya mereka tidak tahu kemana mereka harus meminjam uang, selain itu jika meminjam di bank itu repot karena anda harus mengantri dan biasanya bank tutup cepat sekali,” ungkap Ellis.

Screenshot Cekaja Cekaja lahir dari kombinasi peluang yang ada, waktu yang tepat dan juga masalah yang dialami oleh banyak orang. Apa arti waktu yang tepat ini? Pada awalnya sekitar tahun 2007, banyak orang yang masih meragukan perkembangan sosial media dan dunia e-commerce di Indonesia. Banyak orang tidak yakin bahwa orang Indonesia mau berbagi cerita dan foto di sosial media atau bahkan berbelanja online. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ternyata pendapat orang-orang ini salah. Saat ini semakin banyak orang Indonesia yang sudah mulai berbelanja online, itu ditandai dengan suksesnya beberapa perusahaan e-commerce besar seperti Lazada, Zalora, Blibli, dan masih banyak lagi. Ini membuat Ellis yakin bahwa mendirikan Cekaja sekarang adalah waktu yang tepat karena sudah mulai banyak orang yang percaya dan mulai berbelanja online.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Cekaja adalah situs perbandingan harga produk finansial dan asuransi di Indonesia agar orang Indonesia bisa dengan mudah dan cepat dalam memilih produk yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Anda bisa melakukan semuanya secara online, seperti pencarian harga dan pengisian formulir. Cekaja juga menawarkan layanan call center dan chatting yang siap melayani anda dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam bagi anda yang ingin bertanya dengan lebih mendalam tentang Cekaja beserta produk-produk yang ada di dalamnya. Dalam waktu yang cukup singkat, Cekaja sudah bermitra dengan berbagai bank dan perusahaan asuransi ternama di Indonesia.

tutorial cekaja Cekaja

Screenshot di atas adalah hasil yang ditampilkan jika anda membutuhkan sejumlah pinjaman tanpa agunan melalui Cekaja. Supaya data yang dihasilkan akurat, terlebih dahulu anda harus mengisi beberapa data mengenai kota tempat anda tinggal sekarang, tanggal lahir, jumlah uang yang ingin anda pinjam, dan jumlah penghasilan anda perbulannya. Dalam contoh di atas, data yang saya isi yaitu:

  • Tanggal Lahir: Kelahiran 1985
  • Kota: Jakarta
  • Jumlah pinjaman: Rp 50juta untuk 3 tahun
  • Penghasilan perbulan: Rp5-10juta perbulan

Dengan data yang anda masukkan itu, muncullah screenshot di atas. Sudah jelas bukan? Anda bisa melihat dengan detil dan lengkap berapa uang yang harus anda bayar, besarnya pinjaman, total bunga, dan bank-bank mana saja yang ada di kota anda yang bisa menawarkan pinjaman yang sesuai dengan apa yang anda inginkan. Selain itu juga ada fitur “kemungkinan persetujuan” yang ditandai dengan lima lingkaran berwarna biru. Semakin banyak lingkaran berwarna biru, semakin tinggi kemungkinan pinjaman anda diterima oleh bank yang bersangkutan. Jika penghasilan anda sekitar Rp 7jutaan dan anda ingin meminjam uang sebesar ratusan juta, tentu kemungkinan diterimanya tidak sama dengan pinjaman Rp 50juta. Apabila anda tidak mengerti fitur-fitur di situs ini, anda cukup mengklik “tanda tanya” yang ada di situs tersebut untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam.

Tulisan berwarna hijau menyatakan bahwa Kredit Tanpa Agunan (KTA) hanya baru tersedia di daerah Jabodetabek, di luar daerah ini anda perlu mengklik “Hubungi saya” untuk konsultasi secara gratis bersama customer care dariCekaja. Jika sudah selesai, anda bisa klik “Dapatkan Penawaran”. Lalu bagaimana dengan keamanan data yang anda masukkan? Tenang saja Cekaja adalah perusahaan yang menjamin keamanan data anda dari pihak ketiga. Cekaja juga sudah dianggap mitra oleh Akki (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia). Cekaja sangat perhatian dengan masalah kepercayaan customer dan semua mitra-mitranya, termasuk Bank Indonesia. Oleh karena itu Cekaja sangat mengikuti dan memenuhi semua peraturan yang berlaku.

Dengan bunga pinjaman yang selalu berubah-ubah, Cekaja memiliki solusi untuk menanganinya, Irijanto, selaku PR di Cekaja mengatakan:

“Teknologi kami tidak terintegrasi dengan teknologi di bank karena semua bank di Indonesia belum mempunyai semacam API, atau Application Programming Interface, maupun untuk data stream atau untuk mengelola kebutuhan banking di portal ketiga. Jika ada, pasti kami senang sekali, tapi bank di Indonesia belum punya. Namun, yang kami pastikan, setiap hasil perhitungan yang kami tampilkan melalui mesin perbandingan kami menggunakan data yang langsung berasal dari mitra-mitra kami. Mesin perbandingan kami juga diciptakan untuk bisa di-custom mengikuti perkembangan dari perhitungan bunga yang berlaku. Karena itu, bila anda pernah melakukan perbandingan di CekAja, maka kami juga selalu memberikan disclaimer yang berbunyi:

“Segala penawaran dan aplikasi produk yang dilakukan di CekAja.com mewakili data produk yang tersedia pada saat ini dan tidak mengikat dengan mitra sebelum pengesahan kontrak dilakukan. Informasi produk yang ditampilkan di situs CekAja selalu diperbarui dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.”

Kesimpulannya adalah bisnis seperti ini memang sangat rumit, mulai dari teknikal pembuatan mesin pembandingnya hingga memenuhi semua regulasi yang terkait. “Menurut saya, Cekaja adalah sebuah inovasi dan solusi yang memecahkan banyak masalah orang khususnya di Indonesia, kami adalah perusahaan yang mengincar pertumbuhan jangka panjang, kami adalah satu-satunya perusahaan di Indonesia yang memiliki teknologi yang canggih seperti ini dan kami lahir untuk Indonesia. Kami sadar untuk meraih pangsa pasar Indonesia, kami harus melokalisasikan semua produk kami khusus untuk Indonesia” ungkap Ellis.

Membangun kerjasama dengan para mitra

Dengan dilengkapi tim-tim yang hebat, berkapabilitas dan berpengalaman di bidangnya masing-masing, tidaklah susah bagi Cekaja untuk menjalin hubungan kerjasama dengan para mitra termasuk bank dan perusahaan asuransi walaupun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selain itu, nama Mountain Venture sendiri bisa mendongkrak reputasi Cekaja di mata para mitra. Tetapi, satu hal yang sangat dipegang oleh Cekaja dalam menjalin kerjasama adalah kepercayaan. Ini adalah value yang mereka tawarkan tidak hanya kepada calon customer, tetapi juga mitra. Cekaja berupaya keras untuk meyakinkan para mitra agar mereka mau diajak kerjasama. Salah satu caranya adalah dengan memenuhi semua regulasi yang terkait untuk menjalankan bisnis model seperti ini. Dengan begitu, mitra lainnya akan dengan mudah untuk diajak kerjasama.

“Saat kami menghampiri calon mitra kami, mereka mengatakan bahwa bisnis model seperti kami ini memang sangat membantu karena mempermudah nasabah untuk mencari produk finansial yang sesuai dengan kebutuhan mereka, ternyata banyak calon nasabah yang masih belum mengerti cara meminjam uang. Itulah kenapa Cekaja menawarkan sebuah layanan yang efisien bagi nasabah dengan data yang komprehensif, membantu nasabah memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan sekaligus mengedukasi mereka. Semua dalam satu platform yang transparan dan efisien” jelas Ellis.

tim cekaja

Value

Seperti yang dikatakan oleh Ellis, “value yang kami tawarkan adalah kemudahan, cepat, aman, efisien, dan yang paling penting adalah layanan yang memuaskan. Apabila anda sudah bergabung dengan Cekaja sebelumnya, semua yang anda lakukan selama browsing di situs Cekaja akan terekam dan tentunya ini akan mempermudah anda dalam pengisian data atau pengajuan lainnya.” Tim customer service Cekaja selalu standby bagi siapa saja yang ingin bertanya, baik melalui telepon maupun layanan chatting. “Setiap hari ada saja orang yang bertanya mengenai cara peminjaman uang, padahal semua proses dan persyaratannya semua sudah kami jelaskan dalam blog kami, jadi kami juga harus mengedukasi mereka secara langsung sebagai bentuk pelayanan yang maksimal dari kami,” ungkap Irijanto.

Pertumbuhan Cekaja bisa dibilang cukup cepat karena kurang dari dua bulan, mereka bisa mendapatkan ribuan customer (orang yang mengajukan aplikasi di Cekaja), itu membuat Cekaja harus menambah armada di bagian pelayanan customer agar bisa terus melayani mereka dengan kualitas yang tinggi. Mereka tidak menyangka bahwa banyak orang Indonesia yang lagi membutuhkan uang.

Revenue Model

Pendapatan Cekaja berasal dari para mitra, jadi mereka sama sekali tidak mengenakan biaya kepada customer. Setiap nasabah yang berasal dari Cekaja dan diterima oleh bank, bank yang bersangkutan akan memberikan komisi kepada Cekaja. Ellis mengatakan bahwa mereka adalah software company. Walaupun belum menjadi fokus utama, ke depannya mereka akan menyediakan layanan cloud based financial software danSaaS (Software as a Service). Selain itu Cekaja akan terus melengkapi layanan asuransi dan perbankan serta layanan mesin pembanding yang nantinya akan berekspansi ke perbandingan layanan tv berlangganan.

Kami ingin mempermudah hidup customer kami agar mereka bisa save money and save time for everything. – J.P.Ellis, CEO Cekaja

Dengan layanan Saas dan cloud based financial software, Cekaja tidak hanya mentarget pasar B2C, tetapi juga B2B untuk ke depannya.

Marketing

Karena masih di dalam versi beta, Cekaja belum terlalu banyak menghabiskan budget mereka di marketing. Tetapi beberapa budget mereka dihabiskan di Facebook Ads, Google Ads dan Twitter. Traffic yang datang ke Cekaja ada yang datang secara langsung, sosial media dan ada juga yang datang dari link afiliasi yang berasal dari situs mitra, seperti AKKI. Selain itu juga Cekaja juga memanfaatkan SEO untuk mendatangkan traffic secara organik. SEO adalah investasi untuk jangka panjang.

Tim dan tantangan operasional

kantor cekaja

Jumlah tim Cekaja sekarang adalah 15 orang. Mereka menangani berbagai jobdesk seperti menangani bagian asuransi, konten, programming, perbankan, marketing dan masih banyak lagi. Ellis mengatakan, “Setiap orang di tim kami merasa terlibat dalam mengembangkan Cekaja. Bahkan tim kami secara bergiliran melayani layanan live chat kami agar setiap karyawan kami bisa merasa menjadi bagian dalam Cekaja, merasakan pengalaman melayani customer dan bisa menjelaskan kepada orang lain mengenai produk yang ada di Cekaja. Jika mereka sendiri tidak bisa menjelaskan mengenai Cekaja kepada orang lain, bagaimana Cekaja mau maju kalau karyawannya sendiri tidak bisa menjelaskan?” ungkap Ellis.

Membangun Cekaja bukanlah hal yang gampang dilakukan. Cekaja juga menghadapi tantangan dalam operasional sehari-hari. Salah satu tantangan yang mereka hadapi saat ini adalah kemacetan. Kenapa bisa begitu? Ketika nasabah sudah setuju untuk mengambil suatu pinjaman dan mengisi formulir secara online di Cekaja, lalu mereka akan didatangi oleh kurir dari Cekaja untuk meminta tanda tangan dan beberapa syarat lain yang dibutuhkan. Ini adalah tantangan bagi Cekaja bagaimana agar kurir ini bisa datang tepat waktu dan berhasil meminta tanda tangan langsung dari sang nasabah. Jadi nasabah tidak usah repot-repot keluar, hanya tinggal duduk diam di rumah, lalu kurir Cekaja akan datang.

Saat ini Cekaja fokus untuk meningkatkan jumlah customer dan juga pendapatan dalam waktu yang sama. Mereka ingin menyediakan pengalaman terbaik bagi pengunjung yang datang ke situs Cekaja dengan menawarkan UI dan UX yang sangat user-friendly, sederhana, dan mudah digunakan. Improvisasi ini akan terus mereka lakukan guna menawarkan pengalaman yang tidak bisa dilupakan customer selama mengunjungi Cekaja.

A Piece of Advice

Bagi anda yang ingin menjalankan bisnis dan ingin membangun startup sendiri, Ellis menyarankan anda supaya mencari pengalaman terlebih dahulu. Pengalaman di sini bukan berarti harus bekerja dengan orang lain, tetapi lebih menguasai berbagai keahlian dan pengalaman yang dibutuhkan dalam membangun bisnis. Anda juga perlu menyadari bahwa menjadi entrepreneur yang sukses itu adalah perjalanan yang sangat panjang, bukan sebuah overnight success.

Ada banyak hal yang perlu anda pelajari terlebih dahulu. Melihat dari perjalanan Ellis, ia sendiri baru mengenal dunia bisnis dan finansial di tahun 2005 dan ia bekerja terlebih dahulu di suatu private equity sebelum ia membangun startup pertamanya. Ia juga bukan keturunan entrepreneur, ayahnya adalah seorang insinyur dan ibunya adalah seorang guru. Itulah mengapa ia menyarankan hal ini. Take it slow, but have a plan. Adapun saran lain bagi orang yang ingin menjalani bisnis adalah sebagai berikut:

  1. Cari pengalaman, artinya jika anda menguasai ilmu komputer, mungkin sebaiknya anda belajar bisnis atau hal-hal tentang keuangan. Jika anda menguasai bisnis dan akuntasi, mungkin sebaiknya anda belajar ilmu komputer atau cari pengalaman di marketing
  2. Cari ekosistem yang mendukung. Ellis bisa mengatakan ini karena ia menemukan manfaat saat ia bergabung dengan Mountain Venture dan Kejora. Orang-orang yang ada di Kejora sangat memiliki semangat yang tinggi dan lingkungan di Kejora juga sangat kondusif, ini membuatnya selalu semangat dalam membangun Cekaja.
  3. Dan yang terakhir adalah cari partner yang bisa menutupi kekurangan anda. Cari partner yang bisa melengkapi anda.

Akhir kata, Ellis mengatakan, “we will be the first billion dollar company in Indonesia.” Mari kita tunggu gebrakan selanjutnya dari Cekaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.