PROLIGA 2016 : Alasan Pemain Internasional Main di Proliga: Gaji Tinggi dan Tantangan Baru

proliga-petrokimia-Renato-Hermely-370x242
Mar 28 2016

PROLIGA 2016 : Alasan Pemain Internasional Main di Proliga: Gaji Tinggi dan Tantangan Baru

SOLO — Pecandu voli di Soloraya dimanjakan dengan aksi-aksi heroik pemain internasional selama tiga hari di ajang Proliga di GOR Sritex Arena, Solo, Jumat-Minggu (25-27/3/2016). Smash, block, receive, hingga jump shot menggigit dari para pemain luar negeri itu menjadikan pertandingan di Porliga semakin sengit dan dramatis.

Skill mereka memang sudah tak diragukan. Mayoritas pemain asing itu pernah mencicipi panggung sekelas Olimpiade. Sebagian bahkan pernah meraih medali di ajang multievent tertinggi di muka bumi tersebut.

Logan Tom misalnya telah empat kali terjun di Olimpiade bersama Timnas Amerika Serikat (AS). Ia ikut menyumbang medali perak di Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012. Perannya pun cukup vital di timnya. Spiker dunia yang dikontrak Jakarta Pertamina Energi itu pernah menjadi top scorer Olimpiade Beijing.

Maka tak mengherankan apabila ia dianggap sebagian orang sebenarnya masih layak memperkuat AS di Olimpiade Brazil 2016 kendati usianya sudah menyentuh angka 34 tahun.

Lantas alasan apa Logan mau berkarier di Indonesia? “Saya sudah main di 10 negara berbeda,” ujar Logan ketika dijumpai Solopos.com seusai timnya mengalahkan Gresik Petrokimia pada laga pembuka Proliga Seri Solo, Jumat.

Selalu mencari suasana baru sepertinya menjadi alasan Logan. Dalam kerier klubnya, ia sudah berganti-ganti tim di berbagai negara. Mulai dari Italia, Rusia, Swiss, Brasil, hingga Turki. Oleh karena itu, Logan tak khawatir ketika tahun ini dirinya harus berkarier di Indonesia, negara yang sebelumnya belum pernah dia singgahi.

Rekan setim Logan di Pertamina Energi, Marianne Mari Stein Brecher, juga baru memantapkan diri berkerier di Indonesia. Pemain asal Brasil tersebut tercatat pernah bermain di Turki dan Italia. Namun peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 tersebut mengaku pernah memiliki pengalaman pahit ketika bermain di Italia.

“Waktu saya membela salah satu tim di Italia saya lima bulan tidak digaji. Kalau di sini [Indonesia] semuanya berjalan baik,” ungkap pemilik tinggi badan 1,88 meter itu.

Marianne tak menampik level Proliga masih berada di bawah kompetisi voli di negara-negara lain yang pernah dia singgahi. “Tapi saya suka di sini orangnya mau berjuang keras, mereka bersemangat untuk yang terbaik,” ungkapnya.

Tim-tim Proliga mengakui sangat membutuhkan pemain asing agar bisa bersaing di kompetisi voli paling elite di Indonesia ini. Tak ayal, tim putra Jakarta Pertamina mendatangkan amunisi baru yakni Renato Hermely pada putaran kedua musim ini. Hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Smash-smash geledek peringkat keenam top scorer liga voli Brasil tahun lalu itu mampu membawa Pertamina menyengat lawan mereka, Jakarta BNI Taplus, Sabtu malam.

“Memang tanpa pemain asing, akan sulit bersaing di Proliga. Kami sendiri mendapat Renato dari seorang agen. Terkadang kami juga bisa mendapat pemain asing dengan mencari keterangan dan info lewat media sosial,” ujar asisten Pelatih Jakarta Pertamina Energi, Alam Hadu Kosasih, saat dijumpai wartawan, Sabtu malam.

 

Editor: Adib M Asfar | dalam: Umum | Sumber: http://www.solopos.com/olahraga/feed

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.