Sharing @Reintweets Tentang Fundraising dari Investor Startup Teknologi Indonesia di Event @DigitalBdg

1555468_1432070263694677_1049645410_n
Mar 28 2016

Sharing @Reintweets Tentang Fundraising dari Investor Startup Teknologi Indonesia di Event @DigitalBdg

Minggu lalu saya hadir di acara Digital BDG memberikan sharing tentang startup fundraising di event Bandung Digital Meetup. Anda bisa membaca liputannya di Bandung Digital Meetup day 2 – pembagian rahasia besar hingga pembukaan ilmu tingkat tinggi (judulnya artikelnya keren amat ya, seperti biasa internet marketing guys punya skill copywriting dahsyat ).

Pagi harinya sebelum acara saya breakfast dan minum kopi bareng Arip Tirta, founder Urbanindo.com, dia adalah teman dan tempat saya bertanya tentang fundraising karena pengalamannya bekerja di VC di Amerika selama 8 tahun, sedangkan dunia investment di Indonesia baru berkembang 3 tahun terakhir. Pagi itu saya banyak belajar dari mas Arip tentang bagaimana cara melakukan monitoring portofolio startup sebagai associate dari VC, ia juga mengingatkan saya bahwa valuasi itu sebenarnya hanya “permainan angka” karena sifatnya yang unrealized. Apabila ada teman-teman di Bandung yang tiba-tiba mendapatkan offer investasi yang serius dan Anda buta tentang VC investment, saya sarankan meminta masukan pada beliau. Kantor Urbanindo.com sendiri ada di Ciampelas.

Btw, kembali lagi ke event Digital.bdg, berikut ini adalah sharing saya dan point-point diskusi yang ada di event tersebut. Sharing ini bersumber dari pengalaman saya bekerja di beberapa VC yang berbeda.

  1. Beberapa minggu lalu saya menemani rekan beli peralatan bayi di sebuah toko di Pluit, mereka sudah punya website yang running well sejak 2010, saya heran kenapa yang mendapatkan invesment dari DG Incubation (investor Path dan Twitter) adalah Bilna, bukan website dari toko ini. Saya berpikir sejenak dan membuat daftar singkat dalam pikiran saya : (i) Dapat investment atau tidak dapat kadang hanya masalah kenal atau tidak kenal dengan investornya (ii) Mereka tidak tahu apa itu “startup investment”, kata “investor” buat beberapa orang terasa “Bang !” di kepala mereka (iii) Mereka memang tidak punya keinginan untuk menjadi nomor 1 di market Indonesia yang mana mereka nantinya harus me manage banyak orang (iv) Saya membuka website mereka dan menemukan website mereka memiliki desain buruk, sangat berbeda dengan Bilna.com yang melakukan benchmark website dengan website sejenis di luar negeri misalnya Diapers.com dalam hal warna, gambar, user experience, dll. (v) Tidak butuh investment karena memiliki modal cukup.
  2. Fundraising dari investor atau angel bukanlah sesuatu yang harus dilakukan semua startup, umumnya yang melakukan fundraising adalah yang memiliki target menjadi salah satu yang terbesar di market mereka atau memiliki target untuk exit besar atau kondisi market yang menantang di mana para kompetitor melakukan fundraising.
  3. Dua pola investment yang banyak dilakukan adalah equity (biasanya common stock) dan convertible note (debt/utang yang bisa diconvert jadi equity). Equity biasanya jadi best practice. Pros and cons dari convertible debt Vs equity akan saya bahas lain waktu.
  4. Ada banyak investor teknologi di Indonesia, listnya ada di situasi, tantangan, peluang ekosistem startup Indonesia.
  5. Alternatif dari melakukan fundraising dari Venture Capital adalah lewat situs crowdfunding seperti Wujudkan.com kalau di Indonesia, Indiegogo.com atau Kickstarter. Beberapa founder asal Indonesia yang sukses melakukan crowdfunding adalah Vibease dan Dreadout.
  6. Perlu diketahui bahwa di dunia startup (terutama startup teknologi yang growthnya cepat) ada dua jenis profit : operational profit dan capital gain. Capital gain didapatkan apabila investor berhasil menjembatani startup tersebut ke series A.
  7. Ada jenis investor rambo dan sniper, dan ada juga yang di tengah-tengahnya. Rambo dan sniper adalah dua sisi yang ekstrim. Investor rambo perilakunya biasanya akan berinvestasi di 10 startup di mana 5 gagal, 3 survive tetapi gitu-gitu aja, 1 lumayan sukses, 1 sukses besar – dengan metode rambo ini mereka memberikan banyak kesempatan untuk anak muda membuat startup (walaupun banyak yang gagal). Sedangkan sniper akan mengatakan “saya tidak mau membuat anak-anak muda membuang waktu 1-2 tahun untuk membuat startup yang tidak proven lalu gagal, 1-2 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk dibuang, saya hanya mau invest di startup yang proven dan bisa dijembatani ke funding selanjutnya”.
  8. Investor dan juga inkubator dianalogikan oleh Yinglan Tan (Sequoia Capital India ) sebagai seorang koki di sebuah restoran. Apabila customer yang datang sedikit, maka koki ini bisa membuat racikan masakan terbaik untuk customernya. Tetapi apabila yang datang banyak bersamaan, kualitas masakannya akan berkurang.
  9. Untuk jenis startup yang kental teknologinya (load codingnya besar) disarankan untuk tidak meng-outsource codingnya ke orang/agency lain. “don’t outsource your core competence” adalah saran yang seringkali muncul dalam dunia startup. Dalam banyak kasus, apabila startup ini mau melakukan fundraising di tahap berikutnya (misal series A), investor series A akan mengecek pengalaman CTOnya. Apabila mereka adalah jenis startup teknologi, tetapi dengan tim teknologi yang lemah, akan kesulitan melakukan fundraising seed atau series A.
  10. Ada founder yang marah ke investor seednya “kok tidak bilang kalau valuasi perusahaan saya ini bisa jadi gede banget ? dulu saya jual saham ke kamu kemurahan !” biasanya yang mengalami ini adalah startup yang tidak mengalokasikan cukup waktu untuk membandingkan penawaran dari beberapa investor. Tetapi di sisi lain bisa jadi investor seednya juga kurang memberikan edukasi tentang seberapa pentingnya tiap persen dari saham startup.
  11. Kebanyakan startup gagal karena kehabisan dana. Dalam kaitannya dengan fundraising, bisa dibilang gagal karena tidak bisa dijembatani ke pendanaan series berikutnya baik karena network founder dan investornya kurang atau dengan dana seed tersebut, startupnya tidak berhasil membangun value (=revenue, jumlah user, traffic) yang diharapkan. Yang terjadi kemudian, startupnya ditutup atau dijadikan startup zombie dulu – di mana foundernya sudah tidak full time di startupnya.
  12. Investor yang berbeda biasa memiliki taste yang berbeda juga. Ada yang hanya mau invest ke portofolio yang bisa menjadi nomor 1 di market, ada juga yang memprioritaskan startup yang ditargetnya bisa meng-enhance portofolio atau bisnis mereka yang sudah exist sebelumnya.
  13. Jenis atau tipe VC berbeda-beda, ada yang financier (investor saja), ada yang full service (bukan hanya memberikan investment tetapi juga membantu hiring, accounting bahkan ikut melakukan eksekusi). Anda bisa membaca lebih lengkap di “the rise of operators as VC” dan bankers-mentors-operators which one is better”
  14. Kebanyakan startup biasanya tidak memiliki “luxury” untuk memilih investor mana yang akan menginvestasikan dana ke mereka. Tetapi beberapa ada yang bisa memilih karena startup ini mendapatkan “pitching” dari beberapa investor karena mendapatkan market traction (terbalik dengan kondisi kebanyakan di mana startup yang pitching ke investor).
  15. Apabila ada yang tertarik untuk berinvestasi ke startupmu, amat sangat disarankan untuk bertanya ke lebih dari satu VC dan meminta pendapat kira-kira startupmu valuasinya berapa. Kebanyakan founder baru tidak punya bayangan sama sekali ketika diberikan offer “saya mau invest 1M untuk 60%” itu arti dan konsekuensinya apa, artinya seandainya kalau bisnis model kamu bukan business model yang proven monetizingnya (let’s say, app untuk suami istri berbagi info pengeluaran bulanan), kalau tahun depan uang itu habis (untuk sewa kantor, beli komputer, bayar karyawan mahal .. gabungan dari beberapa keputusan yang tidak cukup bijaksana) dan startupmu belum menghasilkan revenue, artinya harus melakukan raise fund lagi dan sahammu akan terdilusi (berkurang) artinya motivasimu akan turun. Tidak banyak founder muda aware akan hal ini dan baru sadar setahun kemudian “kok saya kerja keras sekali tapi saham saya cuma segini ya ? sudah valuasinya kecil, persentasenya juga kecil”.
  16. Perlu untuk mengetahui “seberapa sabar” capital yang akan diinvestasikan pada startup anda. Jika yang memberikan pendanaan adalah pamanmu dan sebagai founder kamu tidak memberikan performa bagus, mungkin pamanmu akan menunggu dengan sabar, tetapi tentu akan berbeda halnya jika yang memberikan pendanaan adalah Venture Capital. Karena hal ini, ada beberapa rekan yang mengatakan (salah satunya Aria Rajasa), di Indonesia yang paling jalan seharusnya angel investment di mana angel investment biasanya lebih sabar dari VC.
  17. Ada beberapa tipe investor finansial – yang lebih mempertimbangkan faktor ROI ketimbang faktor lain, ada juga tipe investor yang lebih mengutamakan your story atau visi – apakah Anda bisa mengubah dunia ? investor jenis kedua biasanya ingin “be part of something great”. Ada juga tipe strategic investment – biasanya bukan VC tetapi perusahaan yang mirip denganmu di luar negeri, misalnya Dapurmasak diinvest oleh Cookpad, Klikeat diinvest oleh Yumeno Machi Di Jepang. Beberapa startup lebih suka diinvest oleh investor seperti ini karena lini bisnis dan expertisenya relevan.
  18. Ada teman bertanya “ada investor ingin berinvestasi 5M untuk 50%, bagaimana menurut mas Rein ?” Jawaban sebenarnya tentu saja case by case by industry dan kebanyakan startup tidak memiliki luxury mendapatkan pitching dari investor, hanya saja best practicenya adalah karena fundraising tidak hanya dilakukan sekali (lihat gambar ini) maka untuk tahap awal jumlah saham yang dilepas biasanya kurang dari 20%, untuk memberikan ruang bagi investor lain (yang biasanya memiliki dana lebih besar) memasukkan dananya. Tetapi dalam kasus investor yang meminta di atas 50% untuk tahap awal biasanya memiliki value-value lain selain money, misalnya access to market/network.
  19. Ada istilah runway dan burnrate. Runway adalah “dana ini akan digunakan selama berapa lama sampai habis”, sedangkan burn rate adalah “seberapa banyak startupmu menghabiskan uang tiap bulannya’ Untuk seed funding biasanya runwaynya 18 – 24 bulan. Kadangkala kalau lebih cepat dari itu sudah mau raisefund lagi, valuasinya tidak begitu bagus.
  20. Sebuah startup bertanya “apakah kalau diinvest, kami akan disetir oleh VC?” Best practice yang saya tahu adalah “disetir” tidak dalam semua hal, tetapi tentunya harus ada beberapa hal fundamental yang perlu disetujui bersama. Di luar hal-hal ini, VC mempercayakan pada founder untuk mengeksekusinya. Hal-hal fundamental misalnya setelah diinvest apakah tim harus direlokasi ke Jakarta, apabila jumlah co founder terlalu banyak (let’s say .. dua belas orang) mereka akan memberikan advice bahwa mereka tidak pernah melihat startup dengan founder sebanyak itu (you know what to do !).
  21. Di negara maju, adalah hal biasa bagi founder, seed investor, inkubator untuk bertanya kepada calon acquirer/pembeli/bigger investor (mis. Google, Yahoo, Microsoft, IBM, Amazon) tahun depan atau dua tahun lagi kamu butuh teknologi / startup seperti apa ? biar kami buatkan terlebih dulu. Kalau di Indonesia founder yang sudah punya skill bagus (coding, internet marketing, business model, monetizing, networking) tetapi belum tahu mau buat startup apa disarankan bertanya ke VC, inkubator tentang market apa yang potensial dan kalau networknya “nyampe” juga bertanya ke Indosat, Kompas, Vivanews, Telkomsel,Telkom. Beberapa perusahaan Tbk seperti ini untuk bertumbuh juga bisa lewat jalan akuisisi startup.
  22. Tidak semua jenis model bisnis bisa difunding oleh investor (terutama investor yang profesional) istilahnya, ada “minimum revenue cap-nya” atau minimum capital gain-nya, terutama yang diincar adalah bisnis-bisnis yang punya benchmark di negara maju. Beberapa investor mengutamakan pertanyaan “apakah sudah IPO di negara lain ?” beberapa bisnis model seperti saya sebut di atas, app berbagi info expense untuk suami istri, app informasi rute busway, walaupun app ini berguna untuk masyarakat, tetapi di mata investor yang mengutamakan ROI seringkali disebut “wasting time” apalagi ketika investor tidak bisa mengingat apakah app seperti ini di negara lain mendapatkan investasi dari VC atau inkubator yang bagus.
  23. Valuasi adalah hal sering ditanyakan dan seringkali angkanya “turun dari langit” belum ada best practice yang jelas untuk menentukan valuasi. Umumnya adalah jumlah user atau revenue dikalikan sebuah angka (sebut saja “X”) di mana “X” dipengaruhi oleh beberapa faktor, lalu angka hasil perkaliannya dibandingkan dengan valuasi dari startup lain yang kurang lebih bisnis modelnya mirip. Jika kira-kira dirasa terlalu rendah ya dinaikkan dikit. “X” sendiri dipengaruhi faktor-faktor seperti (i) Experience founder (ii) Seberapa green market yang Anda masuki (iii) How big is the market (iv) Market yang Anda masuki punya barrier to entry untuk kompetitor tidak ? (v) Apakah ini bisnis model yang proven (validated), ada yang IPO di negara lain ? Ada 1 startup ecommerce Indonesia di bidang ticketing yang saat belum launch saja valuasinya sudah belasan miliar, caranya dengan menonjolkan faktor di atas. (valuasi=harga 100 % saham, butuh di-valuasi karena investor saat masuk akan tanya “saya kalau invest 1 M dapat berapa % saham ?”)
  24. Menurut pengalaman saya selama hampir 3 tahun bekerja di bidang VC, kondisi yang sangat harus dihindari adalah dua kondisi yang terjadi di saat bersamaan : (i) Anda mendapatkan dumb money (baca : cara mencari modal usaha : berhati-hatilah dengan dumb money) dan (ii) Business model Anda bukan business model yang validated atau proven. Mungkin kalau bisa ditambah satu lagi, (iii) Anda tidak aware bahwa biasanya “everything takes longer than expected”. Arti dari proven/validated kalau dalam bahasa saya, Anda spend 1 USD di marketing maka Anda akan dapat revenue 1,2 USD (tiap orang punya definisi berbeda, tapi dalam konteks ini saya lebih suka menggunakan definisi ini) Jika kondisi ini terjadi bersamaan yang terjadi adalah hubungan Anda memburuk dengan investor dan produk Anda tidak ke mana-mana.
  25. Apabila Anda seorang mahasiswa semester akhir, dunia investasi startup teknologi ini bukanlah dunia yang “terlalu jauh dari kalian”. Dalam 2 tahun terakhir saya sering (5-6x) dengar rekan-rekan mahasiswa menanyakan “mas Rein, saya didatangi orang Jepang, mas Rein kenal tidak?”. Yang perlu diperhatikan apabila Anda seorang mahasiswa adalah tingkatkan kompetensimu (coding, networking dll) terlebih dahulu sebelum hal-hal lainnya (cari ide bisnis, fundraising dll).

Kita di Startupbisnis punya beberapa artikel lain terkait fundraising seperti apa saja yang dilihat investor dari startup, bagaimana membaca term sheet, bisa Anda baca di menu startup learn map.

Thanks

Baca Juga

Cara Mencari Modal Usaha : “The Three Asses Rule” : People, Products, Markets

Startup Seperti Apa yang dicari oleh Cyber Agent Ventures ?

Term Sheet 101 & Case Study oleh Arip Tirta, CEO UrbanIndo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.