UKM SUKOHARJO : 50 Pengrajin Alkohol Bekonang Gulung Tikar

Alkohol-Sukoharjo-370x246
Mar 26 2016

UKM SUKOHARJO : 50 Pengrajin Alkohol Bekonang Gulung Tikar

UKM SUKOHARJO
50 Pengrajin Alkohol Bekonang Gulung Tikar

Pengrajin alkohol, Mujiyono, mengaduk tetesan tebu yang dicampur air di dalam drum di Dusun Sembung, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolban, Senin (21/3/2016). (Bony Eko Wicaksono)Pengrajin alkohol, Mujiyono, mengaduk tetesan tebu yang dicampur air di dalam drum di Dusun Sembung, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolban, Senin (21/3/2016). (Bony Eko Wicaksono)

Jumat, 25 Maret 2016 18:50 WIB |

|



|

UKM Sukoharjo, salah satunya terkenal dengan produk alkohol.

Solopos.com, SUKOHARJO – Pengrajin alkohol di Sukoharjo makin menyusut. Usaha kecil menengah (UKM) ini makin terhimpit, sehingga membuat pengrajin berganti pekerjaan.

Sekitar 50 pengrajin ethanol atau alkohol di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban terpaksa gulung tikar selama setahun ini. Para pengrajin ethanol beralih kerja menjadi buruh serabutan dan petani.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Senin (21/3/2016), jumlah pengrajin ethanol di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban sebanyak 90 orang. Sebelumnya, jumlah pengrajin ethanol mencapai sekitar 140 orang. Mereka merupakan industri rumah tangga yang memproduksi ethanol setiap hari.

Ketua Paguyuban Pengrajin Alkohol Bekonang, Sabariyono, mengatakan para pengrajin ethanol terpaksa gulung tikar lantaran sepinya permintaan dan order dari pelanggan. Kondisi itu diperparah kenaikan harga bahan baku tetes tebu yang mencekik para pengrajin ethanol.

Harga bahan baku tetes tebu mencapai Rp2.000/kg. Sebelumnya harga tetes tebu hanya Rp900/kg. “Jumlah pengrajin ethanol berkurang sekitar 50 orang. Awalnya, hanya beberapa pengrajin alkohol yang gulung tikar namun lambat laun diikuti pengrajin lainnya,” kata dia, saat ditemui di Mojolaban, Senin.

Selain itu, kasus minuman keras (miras) oplosan yang mengandung ethanol di Sleman, DIY, pada Februari lalu, sangat memengaruhi kelangsungan usaha pengrajin ethanol. Kasus itu mengakibatkan puluhan orang yang menenggak miras meninggal dunia.

Imbasnya, tak sedikit para pengrajin alkohol yang beralih pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian pengrajin beralih menjadi buruh tani. Mereka mengolah sawah milik orang lain dengan dibayar upah sesuai kesepakatan. Sebagian pengrajin lainnya menjadi buruh serabutan.

“Kasus di Sleman [miras oplosan] sangat memengaruhi usaha produksi alkohol. Order pelanggan sangat sepi,” papar dia.

Sabariyo khawatir usaha produksi alkohol bakal tutup secara perlahan-lahan jika tak ada perhatian dari Pemkab Sukoharjo. Padahal, sentra produksi alkohol di Desa Bekonang merupakan terbesar di wilayah Soloraya.

Menurut Sabariyono, rata-rata produksi alkohol setiap pengrajin antara 10-15 liter/hari. Artinya, jumlah produksi alcohol di sentra pengrajin ethanol mencapai sekitar 900 liter/hari. Mayoritas produksi alkohol digunakan untuk bahan campuran pembuatan rokok.

“Alkohol yang diproduksi di Bekonang juga digunakan sebagai obat pembersih di puskesmas atau rumah sakit,” terang dia.

Ditemui terpisah, seorang pengrajin ethanol di Desa Bekonang, Mujiyono, mengatakan dapat memproduksi alkohol sebanyak 15 liter/hari. Produksi alkohol itu dipasarkan ke wilayah Jawa Timur seperti Magetan dan Ponorogo.

Dia mengaku sempat beralih menjadi buruh tani selama beberapa pekan pada Januari. Saat itu, order pelanggan sangat sepi sementara ia harus mendapatkan penghasilan untuk keluarganya. “Belasan drum berisi alkohol disimpan di gudang karena tak ada order dari pelanggan,” kata dia.

Lowongan Kerja
STAFF MARKETING, informasi selengkapnya

KLIK DISINI

Berita Terkait

Editor: Rini Yustiningsih | dalam: Sukoharjo |

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.